Senin, 26 Maret 2012

Pengajian

Aktifitas pengajian meskipun tidak ada guru terus berlanjut, karena setiap teman adalah guru, lingkungan adalah guru, pohon yang berada didepan itu adalah guru.
Setiap apapun saja yang kita dengar dan kita lihat, dalam setiap fenoma peristiwa dan kejadian, terkandung pelajaran-pelajaran yang dapat kita ambil. misalnya pohon :
            Ia mengerti kemana mesti tumbuh pergi ke langit menuju cahaya menuju matahari, merengkuh pada yang sejati, namun akarnya masih tetap menancap di bumi, dan tidak tercerabut, di tengah modernisasi yang semrawut.
            Daun-daun kering yang terjatuh itu adalah kasih sayang Allah kepada manusia yang mengajarkan bahwa ilmu dan peradaban mereka, apa yang diagung-agungkan dan apa yang diidolakan mereka semuanya akan yafna (Rusak dan binasa).
            Kata pak Qodri azizy idealnya mahasiswa itu sanggup mencakup tiga hal : pertama IP tinggi, kedua hebat organisasi, ketiga, punya belahan hati.
Kriteria-kriteria tersebut memanglah dimiliki oleh temen-temen saya yang di al-ma’rufiyah ini.  jadi, bagaimana mungkin saya masih tetap menganggapnya sebagai teman? Temanku adalah guruku.
Karena aku memahami diriku : ip ku selalu jeblok, dalam organisasipun aku selalu yang paling goblok, belahan hati malah khabisan stok.  Maka, hal yang musti aku lakukan adalah saya harus banyak belajar, saya harus ngaji, gak cuman ke pak kiai, tapi juga ke temenku. Karena temanku adalah guruku. Ia yang telah memberikan banyak pelajaran berharga dalam hidupku, apa yang tidak diajarkan di sekolah, maka temanlah yang mengajarkannya.

0 komentar:

Posting Komentar